Little Paris
Hello! Wallo!

Assalamualikum! Hi I'm little srars from mars. Welcome to My Paris Town. Replace With Yours. Gomawo!


Entries About Linkies Stuff


Arsip Blog

» Januari 2011
» Maret 2011
» Desember 2011
» Maret 2012
» April 2012
» Mei 2012
» Juni 2012
» Juli 2012
» September 2012
» Oktober 2012
» Januari 2013
» April 2013
» Mei 2013
» Juni 2013
» Juli 2013
» September 2013
» Oktober 2013
» Januari 2014
» Maret 2014
» Juli 2014
Big Clap

Template: Little Paris
Basecodes: Blogskin
Others:   


TUGAS PSIKOLOGI


NURUL FAUZIAH MUSTAM
PO.71.3.231.10.1.051

Judul: ANDRAGOGI (Sebuah Konsep Teoritik)
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): SUPRIADI, M.Pd
Saya Dosen di STAIN Bukittinggi
Topik: Pembelajaran Orang Dewasa
Tanggal: 21 Maret 2006
ANDRAGOGI
(Sebuah Konsep Teoritik)

A. Pengertian

Andragogi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yakni Andra berarti orang dewasa dan agogos berarti memimpin. Perdefinisi andragogi kemudian dirumuskan sebagau "Suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar". Kata andragogi pertama kali digunakan oleh Alexander Kapp pada tahun 1883 untuk menjelaskan dan merumuskan konsep-konsep dasar teori pendidikan Plato. Meskipun demikian, Kapp tetap membedakan antara pengertian "Social-pedagogy" yang menyiratkan arti pendidikan orang dewasa, dengan andragogi. Dalam rumusan Kapp, "Social-pedagogy" lebih merupakan proses pendidikan pemulihan (remedial) bagi orang dewasa yang cacat. Adapun andragogi, justru lebih merupakan proses pendidikan bagi seluruh orang dewasa, cacat atau tidak cacat secara berkelanjutan.

B. Andragogi dan Pedagogi

Malcolm Knowles menyatakan bahwa apa yang kita ketahui tentang belajar selama ini adalah merupakan kesimpulan dari berbagai kajian terhadap perilaku kanak-kanak dan binatang percobaan tertentu. Pada umumnya memang, apa yang kita ketahui kemudian tentang mengajar juga merupakan hasil kesimpulan dari pengalaman mengajar terhadap anak-anak. Sebagian besar teori belajar-mengajar, didasarkan pada perumusan konsep pendidikan sebagai suatu proses pengalihan kebudayaan. Atas dasar teori-teori dan asumsi itulah kemudian tercetus istilah "pedagogi" yang akar-akarnya berasal dari bahasa Yunani, paid berarti kanak-kanak dan agogos berarti memimpin. Kemudian Pedagogi mengandung arti memimpin anak-anak atau perdefinisi diartikan secara khusus sebagai "suatu ilmu dan seni mengajar kanak-kanak". Akhirnya pedagogi kemudian didefinisikan secara umum sebagai "ilmu dan seni mengajar".

Untuk memahami perbedaan antara pengertian pedagogi dengan pengertian andragogi yang telah dikemukakan, harus dilihat terlebih dahulu empat perbedaan mendasar, yaitu :

1. Citra Diri

Citra diri seorang anak-anak adalah bahwa dirinya tergantung pada orang lain. Pada saat anak itu menjadi dewasa, ia menjadi kian sadar dan merasa bahwa ia dapat membuat keputusan untuk dirinya sendiri. Perubahan dari citra ketergantungan kepada orang lain menjadi citra mandiri. Hal ini disebut sebagai pencapaian tingkat kematangan psikologis atau tahap masa dewasa. Dengan demikian, orang yang telah mencapai masa dewasa akan berkecil hati apabila diperlakukan sebagai anak-anak. Dalam masa dewasa ini, seseorang telah memiliki kemauan untuk mengarahkan diri sendiri untuk belajar. Dorongan hati untuk belajar terus berkembang dan seringkali justru berkembang sedemikian kuat untuk terus melanjutkan proses belajarnya tanpa batas. Implikasi dari keadaan tersebut adalah dalam hal hubungan antara guru dan murid. Pada proses andragogi, hubungan itu bersifat timbal balik dan saling membantu. Pada proses pedagogi, hubungan itu lebih ditentukan oleh guru dan bersifat mengarah.

2. Pengalaman

Orang dewasa dalam hidupnya mempunyai banyak pengalaman yang sangat beraneka. Pada anak-anak, pengalaman itu justru hal yang baru sama sekali.Anak-anak memang mengalami banyak hal, namun belum berlangsung sedemikian sering. Dalam pendekatan proses andragogi, pengalaman orang dewasa justru dianggap sebagai sumber belajar yang sangat kaya. Dalam pendekatan proses pedagogi, pengalaman itu justru dialihkan dari pihak guru ke pihak murid. Sebagian besar proses belajar dalam pendekatan pedagogi, karena itu, dilaksanakan dengan cara-cara komunikasi satu arah, seperti ; ceramah, penguasaan kemampuan membaca dan sebagainya. Pada proses andragogi, cara-cara yang ditempuh lebih bersifat diskusi kelompok, simulasi, permainan peran dan lain-lain. Dalam proses seperti itu, maka semua pengalaman peserta didik dapat didayagunakan sebagai sumber belajar.

3. Kesiapan Belajar

Perbedaan ketiga antara pedagogi dan andragogi adalah dalam hal pemilihan isi pelajaran. Dalam pendekatan pedagogi, gurulah yang memutuskan isi pelajaran dan bertanggung jawab terhadap proses pemilihannya, serta kapan waktu hal tersebut akan diajarkan. Dalam pendekatan andragogi, peserta didiklah yang memutuskan apa yang akan dipelajarinya berdasarkan kebutuhannya sendiri. Guru sebagai fasilitator.

4. Nirwana Waktu dan Arah Belajar

Pendidikan seringkali dipandang sebagai upaya mempersiapkan anak didik untuk masa depan. Dalam pendekatan andragogi, belajar dipandang sebagai suatu proses pemecahan masalah ketimbang sebagai proses pemberian mata pelajaran tertentu. Karena itu, andragogi merupakan suatu proses penemuan dan pemecahan masalah nyata pada masa kini. Arah pencapaiannya adalah penemuan suatu situasi yang lebih baik, suatu tujuan yang sengaja diciptakan, suatu pengalaman pribadi, suatu pengalaman kolektif atau suatu kemungkinan pengembangan berdasarkan kenyataan yang ada saat ini. Untuk menemukan "dimana kita sekarang" dan "kemana kita akan pergi", itulah pusat kegiatan dalam proses andragogi. Maka belajar dalam pendekatan andragogi adalah berarti "memecahkan masalah hari ini", sedangkan pada pendekatan pedagogi, belajar itu justru merupakan proses pengumpulan informasi yang sedang dipelajari yang akan digunakan suatu waktu kelak.

C. Langkah-langkah Pelaksanaan Andragogi

Langkah-langkah kegiatan dan pengorganisasian program pendidikan yang menggunakan asas-asas pendekatan andragogi, selalu melibatkan tujuh proses sebagai berikut :

1. Menciptakan iklim untuk belajar
2. Menyusun suatu bentuk perencanaan kegiatan secara bersama dan saling membantu
3. Menilai atau mengidentifikasikan minat, kebutuhan dan nilai-nilai
4. Merumuskan tujuan belajar
5. Merancang kegiatan belajar
6. Melaksanakan kegiatan belajar
7. Mengevaluasi hasil belajar (menilai kembali pemenuhan minat, kebutuhan dan pencapaian nilai-nilai.

Andragogi dapat disimpulkan sebagai :

1. Cara untuk belajar secara langsung dari pengalaman
2. Suatu proses pendidikan kembali yang dapat mengurangi konflik-konflik sosial, melalui kegiatan-kegiatan antar pribadi dalam kelompok belajar itu
3. Suatu proses belajar yang diarahkan sendiri, dimana kira secara terus menerus dapat menilai kembali kebutuhan belajar yang timbul dari tuntutan situasi yang selalu berubah.

D. Prinsip-prinsip Belajar untuk Orang Dewasa

1. Orang dewasa belajar dengan baik apabila dia secara penuh ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan
2. Orang dewasa belajar dengan baik apabila menyangkut mana yang menarik bagi dia dan ada kaitan dengan kehidupannya sehari-hari.
3. Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila apa yang ia pelajari bermanfaat dan praktis
4. Dorongan semangat dan pengulangan yang terus menerus akan membantu seseorang belajar lebih baik
5. Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila ia mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan secara penuh pengetahuannya, kemampuannya dan keterampilannya dalam waktu yang cukup
6. Proses belajar dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman lalu dan daya pikir dari warga belajar
7. Saling pengertian yang baik dan sesuai dengan ciri-ciri utama dari orang dewasa membantu pencapaian tujuan dalam belajar.

E. Karakteristik Warga Belajar Dewasa

1. Orang dewasa mempunyai pengalaman-pengalaman yang berbeda-beda
2. Orang dewasa yang miskin mempunyai tendensi, merasa bahwa dia tidak dapat menentukan kehidupannya sendiri.
3. Orang dewasa lebih suka menerima saran-saran dari pada digurui
4. Orang dewasa lebih memberi perhatian pada hal-hal yang menarik bagi dia dan menjadi kebutuhannya
5. Orang dewasa lebih suka dihargai dari pada diberi hukuman atau disalahkan
6. Orang dewasa yang pernah mengalami putus sekolah, mempunyai kecendrungan untuk menilai lebih rendah kemampuan belajarnya
7. Apa yang biasa dilakukan orang dewasa, menunjukkan tahap pemahamannya
8. Orang dewasa secara sengaja mengulang hal yang sama
9. Orang dewasa suka diperlakukan dengan kesungguhan iktikad yang baik, adil dan masuk akal
10. Orang dewasa sudah belajar sejak kecil tentang cara mengatur hidupnya. Oleh karena itu ia lebih suka melakukan sendiri sebanyak mungkin
11. Orang dewasa menyenangi hal-hal yang praktis
12. Orang dewasa membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat akrab dan menjalon hubungan dekat dengan teman baru.

F. Karakteristik Pengajar Orang Dewasa

Seorang pengajar orang dewasa haruslah memenuhi persyaratan berikut :

1. Menjadi anggota dari kelompok yang diajar
2. Mampu menciptakan iklim untuk belajar mengajar
3. Mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi, rasa pengabdian dan idealisme untuk kerjanya
4. Menirukan/mempelajari kemampuan orang lain
5. Menyadari kelemahannya, tingkat keterbukaannya, kekuatannya dan tahu bahwa di antara kekuatan yang dimiliki dapat menjadi kelemahan pada situasi tertentu.
6. Dapat melihat permasalahan dan menentukan pemecahannya
7. Peka dan mengerti perasaan orang lain, lewat pengamatan
8. Mengetahui bagaimana meyakinkan dan memperlakukan orang
9. Selalu optimis dan mempunyai iktikad baik terhadap orang
10. Menyadari bahwa "perannya bukan mengajar, tetapi menciptakan iklim untuk belajar"
11. Menyadari bahwa segala sesuatu mempunyai segi negatif fan pisitif.




Pedagogi dan andragogi
Salah satu teori belajar dan pembelajaran orang dewasa yang cukup terkenal adalah gagasan andragogi dari Malcom S. Knowles (1913-1997). Pada tahun 1970 Knowles membedakan cara mengajar kepada anak yang disebut pedagogi dengan cara mengajar kepada orang dewasa yang dinamakan andragogi. Knowles berkeyakinan bahwa cara orang dewasa belajar sangat berbeda dengan cara anak belajar. Menurut Knowles, pedagogi berasal dari istilah Yunani paid (anak) danagogus (membimbing); sementara andragogi dari istilah Yunani anerandr (orang dewasa) danagogus( pembimbing)Pedagogy means specifically “the art and science of teaching children” while andragogy “is the art and science of helping adults learn.” (1970:37,38). Dalam pemahaman Knowles, untuk membina peserta didik dewasa cara mengajar untuk anak tidak berlaku lagi, atau haruslah ditinggalkan. Sebenarnya Knowles mengembangkan konsep belajar orang dewasa yang sebelumnya dibangun oleh Edward Lindeman (1885-1953) dalam karyanya The Meaning of Adult Learning.
Akan tetapi di tahun 1980 Knowles[2] merubah pemahamannya bahwa pedagogi dan andragogi tidak harus dipertentangkan, tetapi saling melengkapi dalam pendidikan orang dewasa. Pembelajaran orang dewasa menurut Knowles bahkan dapat bertolak dari pedagogi kepada andragogi. Tentang cara belajar orang dewasa, Knowles memiliki asumsi sebagai berikut:
1- Orang dewasa perlu dibina untuk mengalami perubahan dari kebergantungan kepada pengajar kepada kemandirian dalam belajar. Orang dewasa mampu mengarahkan dirinya mempelajari sesuai kebutuhannya.
2- Pengalaman orang dewasa dapat dijadikan sebagai sumber di dalam kegiatan belajar untuk memperkaya dirinya dan sesamanya.
3- Kesiapan belajar orang dewasa bertumbuh dan berkembang terkait dengan tugas, tanggung jawab dan masalah kehidupannya.
4- Orientasi belajar orang dewasa harus diarahkan dari berpusat pada bahan pengajaran kepada pemecahan-pemecahan masalah.
5- Motivasi belajar orang dewasa harus diarahkan dari pemberian pujian dan hukuman kepada dorongan dari dalam diri sendiri serta karena rasa ingin tahu.
Berdasarkan tulisannya di tahun 1993 perbedaan asumsi pedagogi dan andragogi yang dikemukakan Knowles itu dapat dikemukakan sebagai berikut:
ASSUMSI DASAR
Tentang
Pedagogis
Andragogis
Konsep diri peserta didik
Pribadi yang bergantung kepada gurunya
Semakin mengarahkan diri (self-directing)
Pengalaman peserta didik
Masih harus dibentuk daripada digunakan sebagai sumber belajar
Sumber yang kaya untuk belajar bagi diri sendiri dan orang lain
Kesiapan belajar peserta didik
Seragam (uniform) sesuai tingkat usia dan kurikulum
Berkembang dari tugas hidup & masalah
Oriensi dalam belajar
Orientasi bahan ajar (subject-centered)
Orientasi tugas dan masalah (task or problem centered)
Motivasi bbelajar
Dengan pujian, hadiah, dan hukuman
Oleh dorongan dari dalam diri sendiri (internal incentives, curiosity)
Knowles (1993) juga melihat perbedaan proses pembelajaran orang dewasa dengan anak-anak dalam tujuh aspek utama, yaitu suasana, perencanaan, diagnosa kebutuhan, penentuan tujuan belajar, rumusan rencana belajar, kegiatan belajar dan evaluasinya.
UNSUR-UNSUR PROSES
Suasana
Tegang, rendah dalam mempercayai, formal, dingin, kaku, lambat, orientasi otoritas guru, kompetitif dan sarat penilaian.
Santai, mempercayai, saling menghargai, informal, hangat, kerjasama, mendukung.
Perencanaan
Utamanya oleh guru
Kerjasama peserta didik dengan fasilitator
Diagnosa kebutuhan
Utamanya oleh guru
Bersama-sama: pengajar dan peserta didik.
Penetapan tujuan
Utamanya oleh guru
Dengan kerjasama dan perundingan
Desain rencana belajar
* Rencana bahan ajar oleh guru
* Penuntun belajar (course
syllabus) dibuat guru.
* Sekuens logis (logical sequence)
pembelajaran oleh guru.
* Perjanjian belajar (learning
contracts)
* Projek belajar (learning
projects)
* Urutan belajar atas dasar
kesiapan (sequenced by
readiness)
Kegiatan belajar
* Tehnik penyajian (transmittal
techniques)
* Tugas bacaan (assigned readings)
* Projek untuk penelitian
(inquiry projects)
* Projek untuk dipelajari
(learning projects)
* Tehnik pengalaman
(experiential techniques)
Evaluasi belajar
* Oleh guru
* Berpedoman pada norma (on a
curve)
* Pemberian angka
* Oleh peserta didik berdasarkan evidensi yang dipelajari oleh rekan-rekan, fasiltator, ahli. (by learner-collected evidence validated by peers, facilitators, experts).
* Referensinya berdasarkan criteria (criterion-referenced)
Kebutuhan peserta didik harus diperhatikan
Andragogi mengsumsikan bahwa orang dewasa belajar dengan efektif apabila kebutuhannya dikenali dan dipenuhi. Vlodkowski (1986) mengemukakan bahwa teori kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow yakni: physiological needs, safety needs, love and belogingness needs, esteem needs, dan self actualization needs, harus dipertimbangkan oleh pengajar di dalam merencanakan dan mengelola kegiatan belajar bersama orang dewasa.
Pengikut Knowles lainnya, Jane Vella (1993), menegaskan bahwa analisis kebutuhan harus menempati urutan pertama dalam kegiatan pembelajaran orang dewasa supaya terjadi relevansi dan makna. Memahami dan mengenali kebutuhan dari siapa yang akan mengikuti kegiatan belajar, menurut Vella, akan menentukan langkah dalam menentukan alasan, tujuan, isi, tempat dan proses pembelajaran. Vella mengusulkan interview dengan anggota kelompok atau yang mewakilinya dapat memberi masukan tentang minat dan kebutuhan belajar.
Sementara itu Knowles (1980) melihat ada dua jenis kebutuhan peserta didik, yaitu kebutuhan pribadi dan kebutuhan pendidikan. Kebutuhan pribadi itu adalah:
  1. Physical needs – to see, to hear, to be comfortable, for rest at a minimum.
  2. Growth needs – they are development in knowledge, understanding, skills, attitudes,
interests and appreciation. When people are aware of having new competencies they are motivated to learn.
  1. The need for security – protection against threat to healthy self-respect and self-image. “It
is this need that motivates people to be coutious and reserved in a strange setting.” (p. 85). When this need is not met people may withdraw from participating in learning, or they may protect themselves by taking over, controlling and dominating.
  1. The need for new experience – adventure, excitement, and risk; new friends, new ways of
doing things and new ideas. New experience brings people to find new friends, new interests, new ideas and new thing to do their tasks. “People tend to become bored with too much routine, too much security. When their need for new experience is frustrated, they tend to develop such behavioral symptoms as restlessness, irritability, impulsiveness, or indifference.” (p. 85).
  1. The need for affection or social needs – close relationship with people who will listen to
ideas and feelings, as well as expectations. When people realized they are liked by others, they are motivated for self sacrifice, and cause them to cooperate with those with similar interests and needs.
  1. The need for recognition – the need to have status, position in group; the need to be
admired, or respected by people for what one’s is doing (pp.84-87).
Kebutuhan pendidikan menurut Knowles ialah kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki peserta didik dengan kompetensi yang seharusnya dituntut oleh masyarakat atau lapangan kerja. Kesenjangan itulah yang harus dipenuhi melalui kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Pengetahuan apa yang dibutuhkan oleh peserta didik? Seberapa banyak pengetahuan yang dibutuhkan itu? Sikap dan nilai hidup apa yang diperlukannya? Kompetensi kepribadian, kecakapan dan keterampilan apa yang dibutuhkan untuk menunaikan tugasnya? Kalau kesenjangan kompetensi itu tidak diketahui, atau diabaikan, maka kegiatan belajar menjadi tidak relevan dengan kebutuhan peserta didik.
Disamping itu, Knowles mengemukakan adanya minat (interest) yang dibawa peserta didik ke dalam kegiatan belajarnya. Minat itu terkait dengan hal-hal yang disukai (liking) atau pereferensi (preference). Minat peserta didik jelas dapat berubah karena berbagai faktor yang mempengaruhi. Minat itu dapat saja terkait dengan dunia seni, olah raga, keagamaan, keterampilan tehnik, keterampilan sosial, dan kepribadian.
Menurut Knowles, ada banyak cara pengajar dan intitusi pendidikan untuk mengetahui kebutuhan dan minat peserta didiknya, antara lain:
1- From the individual themselves – through interviews, group discussions or questionnaire: projective questionnaire or sentence-completion questionnaire.
2 – From people in “helping roles” with individuals: konselor; tokoh agama; rohanian; wali mahasiswa; sponsor.
3 – From the mass media.
4 – From the professional literature: psikologi, sosiologi, antropologi, politik.
5 – From organizational and community surveys (1980: 93-100).
Menurut pemahaman saya, perkara lain yang patut diketahui para pengajar mengenai peserta didiknya ialah gaya belajar mereka. David Kolb, salah satu dari sejumlah teori di bidang ini, mengemukakan empat jenis gaya belajar. Kolb membangun konsep itu berdasarkan asumsi bahwa di dalam kegiatan belajar orang melibatkan empat aspek yaitu pikiran (konseptualisasi abstrak); perasaan (pengalaman konkrit); pengamatan (observasi reflektif); dan perbuatan (eksperimentasi aktif). Setiap individu menurut Kolb hanya mempunyai kecenderungan mengkombinasikan dua cara atau aspek, dan sebab itu muncullah empat jenis gaya belajar yakni: the assimilator; the accommodator; the diverger;dan the converger (Nasution, 1988:111-115). The assimilator, membentuk pemahamannya dengan cara konseptualisasi abstrak (pemikiran, logika) dan observasi (pengamatan) reflektif. The accommodator, meningkatkan kompetensi dirinya dengan eksperimentasi aktif (apa yang telah dan sedang dikerjakan; tugas-tugas) dan pengalaman konkrit (nyata). The converger, membangun pengertiannya dengan cara berpikir atau konseptualisasi abstrak dan eksperimentasi aktif. The diverger, membangun pengetahuannya dengan pengalaman konkrit dan pengamatan reflektif.
Cara lain memahami gaya belajar itu ialah dari pendekatan neuropsychology. DePorter & Hernacki (1992) mengemukakan bahwa menurut konsep ini manusia memiliki dua belahan otak, yakni otak kiri dan otak kanan yang fungsinya berbeda. Otak kiri merupakan tempat orang berpikir secara logis, berpikir linear, sistematik, tatabahasa, kalkulasi. Dengan belahan otak kanan orang merasakan, bekerja secara random (acak), menyukai irama, memahami ruang (space) dan gerak. Selain itu, orang menyusun persepsinya dengan dua cara, yakni: abstrak (ide, konsep) dan konkrit (contoh nyata, tindakan). Kombinasi dari dua aspek ini melahirkan empat gaya berpikir atau gaya belajar yakni:
1) Sekuensial Konkrit (SK) – dominasi otak kiri dengan persepsi konkrit – mengutamakan petunjuk kerja yang jelas; berpikir logis dan sistematis; juga praktis; serta cenderung bekerja sendirian (individual).
2) Sekuensial Abstrak (SA) – dominasi otak kiri dengan persepsi abstrak – teoritis, konseptual, menyukai gagasan sehingga kurang praktis; juga cenderung bekerja sendirian (individual).
3) Acak Konkrit (AK) – dominasi otak kanan dengan persepsi konkrit – membangun pemahaman bertolak dari evidensi, kenyataan; tidak menyukai hal-hal logis dan sistematis; atau lebih menuruti intuisi.
4) Acak Abstrak (AA) – dominasi otak kanan dengan persepsi abstrak – mengembangkan pemahaman bertolak dari suasana relasi; perasaan; kerjasama dengan orang; sulit di dalam menyusun gagasan secara logis dan sistematis.
Belakangan ini para ahli pendidikan mulai mencermati konsep multiple intelligence ahli pendidikan dari Universitas Harvard, Horward Gardner. Menurut Gardner (1993) kecerdasan manusia tidak patut hanya diukur dari kemampuan linguistic dan matematis atau logikanya sebagaimana selama ini dilakukan para ahli psikologi. Berdasarkan hasil risetnya yang dilakukan lintas budaya, Gardner melihat tujuh macam kecerdasan manusia yaitu: 1) linguistik; 2) musikal; 3) logiko-matematik; 4) kinestesik; 5) spasial; 6) natural; 7) personal (interpersonal dan intrapersonal). Thomas Amstrong (1999) adalah salah seorang sarjana yang merumuskan alat uji (test) dalam hal kercerdasan berganda dari Ganrner ini, serta mengemukakan implikasinya dalam pendidikan dan pembelajaran.
Bagaimana dengan penerapannya?
Menerapkan pembelajaran cara self directing untuk mahasiswa di Indonesia bukanlah perkara mudah. Mahasiswa di Indonesia umumnya bertumbuh dalam budaya hierarkhis, dimana orangtua, guru, tokoh agama dipandang sebagai nara sumber utama dalam menambah pengetahuan. Sebab itu, mereka bergantung kepadanya. Sikap mental kemandirian kurang dikembangkan dalam keluarga dan sekolah di tanah air. Karena itu, ketika peserta didik belajar di pergurun tinggi sekalipun mereka masih merasa harus digurui oleh pengajaranya, lebih cenderung mendapatkan petunjuk lengkap guna menyelesaikan studinya.
Kebanyakan pengajar juga bersikap demikian, yakni memandang tugasnya hanya mengajarkan informasi yang diketahui kepada peserta didiknya. Mereka mengikuti tradisi pembelajaran pedagogi yang pernah dilaluinya. Pada umumnya pengajar malah senang jika peserta didik menerima saja apa yang dikemukakannya, atau dianggap keliru apabila bila murid mempunyai pandangan berbeda. Hal demikian menyulitkan penerapan prinsip andragogoi dalam pembelajaran.
Dalam rangka membina peserta didik menjadi manusia dewasa, menurut hemat saya kedua pendekatan di atas dapat saja kita pergunakan. Saling melengkapi. Knowles (1993) bahkan menyatakan bahwa jika murid sama sekali baru dalam apa yang akan dipelajari, maka diperlukan pendekatan pedagogi. Artinya, pengajar harus memberikan informasi dasar terlebih dahulu. Dalam hal itu murid sangat bergantung kepada kualitas guru dalam mengajar dan memberikan penjelasan. Akan tetapi, setelah peserta didik mendapatkan pengetahuan yang memadai, maka mereka harus dimotivasi untuk mengembangkan studinya secara mandiri atau bersama dengan kelompoknya. Studi kasus, pemecahan masalah, penyelesaian projek dapat membantu pengembangan kemandirian diri mereka itu.
Dalam sebuah kegiatan kuliah, pengajar dapat saja memberikan garis besar perkuliahan selama pertengahan semester atau dalam enam minggu pertama. Setelah mengevaluasi rencana dan kegiatan yang ditempuh, untuk enam minggu berikutnya, pengajar dapat memotivasi peserta didik untuk melakukan studi mandiri atau berkelompok dan mereka menjadi sumber belajar. Kasus-kasus atau topik untuk disajikan dapat dirundingkan bersama-sama (peer group learning). Penilaian dari kegiatan itu harus jelas, supaya nilai akhir kegiatan studinya tidak bergantung kepada ujian tengah semester atau ujian akhir semester belaka, tetapi porsi tugas dan studi mandiri lebih diperbesar. Dalam perkataan lain, prinsip akuntabilitas dari pengajar dibutuhkan.
Dalam rangka membantu peserta didik untuk mengalami perkembangan ke arah andragogi, yang sangat diperlukan adalah keterampilan belajar (learning how to learn). Peserta didik yang tidak mempunyai keterampilan belajar mempunyai kecenderungan bergantung kepada pengajarnya atau kepada sesama peserta didik lainnya. Adalah baik dan bijak apabila pengajar memberi waktu untuk mendiskusikan cara-cara belajar efektif dalam mengembangkan mata kuliah atau bidang studi yang diampunya. Cara lain, pengajar menugaskan mahasiswa mengikuti lokakarya cara belajar efektif atau membaca buku petunjuk praktis seperti terkait dengan cara berpikir, membaca cepat, melakukan riset, merancang gagasan dan menyusunnya.
Selain itu, pengembangan pribadi dalam hal percaya diri (self-concept), perlu mendapatkan perhatian pengajar. Peserta didik yang kurang percaya diri enggan untuk bekerja dengan kemampuan dirinya, melainkan menggantungkan diri kepada bantuan orang lain. Mahasiswa dengan konsep diri rendah tidak mampu melihat potensi dirinya secara benar, sehingga mungkin dilanda perasaan tidak berdaya dan minder, atau sebaliknya merasa diri pintar padahal tidak demikian. Penanaman konsep dan sikap bahwa mereka mampu sebagai sumber belajar, patut ditekankan dan diteladankan oleh pengajar.
Mengakhiri uraian ini saya mengemukakan gagasan praktis dari Jane Vella (1994) yang telah mengembangkan gagasan Malcom Knowles di atas dalam kegiatan pembelajaran yang dikelolanya. Vella membuktikan bahwa prinsip andragogi di atas tidak saja berlaku untuk masyarakat di Amerika, tetapi juga di Afrika, Nepal, Indonesia dan berbagai tempat lainnya. Vella pun menegaskan bahwa prinsip andragogi tidak saja dapat dioperasionalkan dalam pembelajaran informal di luar sekolah atau kampus, tetapi juga di dalam konteks formal perguruan tinggi. Saya melihat Vella mengusulkan dua belas prinsip penting di dalam mengelola kegiatan belajar bersama orang dewasa.
1 – Agar pengajar melakukan analisis kebutuhan (need assesment) peserta didik sebagai langkah awal untuk berdialog dengan mereka. Pengajar dapat memilih sejumlah wakil dari kelompok besar untuk memberikan informasi mengenai kebutuhan peserta didik, selain memberikan questionnaire kepada semua anggota.
2 – Agar pengajar menciptakan suasana nyaman (safety) ketika berinteraksi dengan peserta didik; dengan jalan tetap hargai pendapat mereka dan melakukan koreksi; juga mendengarkan isi hati mereka, kebingungan, kegelisahan dan sejenisnya. Istilah safety lebih terkait kepada aspek psikologis.
3 – Agar pengajar terus membina hubungan akrab dengan peserta didik di dalam ruangan atau di luarnya dengan cara-cara yang sesuai dengan budaya mereka. Hubungan yang bersahabat antara guru dengan peserta didik harus mendapat tempat utama dalam kegiatan pembelajaran. Pengajar harus sadar bahwa ia tidak saja mengajarkan sesuatu kepada peserta didiknya, tetapi ia melakukan tugas pembelajaran diantara dan bersama mereka.
4 – Agar pengajar membawa peserta didik bertolak dari hal-hal sederhana kepada yang lebih kompleks; sequence pembelajaran harus jelas dari yang paling mudah kepada yang lebih bahkan sangat sukar. Ketika berhasil menguasai sebuah langkah ataupun konsep, pengajar patut menyatakan penghargaan bagi peserta didiknya, untuk menyiapkan atau tepatnya memotivasi mereka ke tugas berikutnya.
5 – Agar pengajar benyak melakukan aktivitas refleksi atas tindakan, atas kasus, atas simulasi sosial, atau atas tayangan yang disaksikan. Menurut Vella, kita dapat mengajukan empat pertanyaan untuk dipertimbangkan:
a) Apa yang Anda lihat terjadi (deskripsi)?
b) Mengapa hal itu terjadi (analisis)?
c) Jika hal itu terjadi dalam situasi Anda, apa penyebabnya (aplikasi)?
d) Apa yang dapat kita lakukan terhadap hal itu (implementasi)?
6 – Agar pengajar memandang peserta didik sebagai subjek dalam kegiatan belajar. Mereka bukan sebagai objek kosong yang harus dipenuhi informasi. Jika mereka diperlakukan sebagai subjek, maka pandangan, perasaan, sikap, opini mengenai bagaimana cara belajarnya yang tepat untuk mencapai hasil harus didengarkan dan difasilitasi. Peran pengajar bersama orang dewasa lebih berupa fasilitator pembelajaran.
7 – Agar pengajar senantiasa melibatkan dan menyentuh pikiran, perasaan dan sikap serta perbuatan peserta didik dalam aktivitas pembelajaran. Peserta didik tidak datang ke dalam perjumpaan bersama guru dengan membawa tubuh dan pikiran belaka, tetapi juga menghadirkan perasaan dan sikap.
8 – Agar apa yang dipelajari oleh peserta didik harus memiliki manfaat, relevan dengan hidup atau tugas sehari-hari. Walaupun yang dipelajari peserta didik hal-hal bersifat abstrak dan konseptual, namun pengajar dapat mengkaitkannya dengan situasi praktis atau dengan tugas dan tanggung jawab sehari-hari. Kalau orang dewasa melihat apa yang tengah dipelajari membawa manfaat, motivasi mereka berkembang.
9 – Agar pengajar mengembangkan dialog dalam pembelajaran, jika tidak demikian maka peran guru sebagai pengajar segera lenyap. Dialog menghendaki relasi kesahabatan juga kesediaan pengajar untuk menjadi satu level dengan peserta didiknya memperbincangkan masalah yang mereka hadapi.
10- Agar pengajar membangun kerjasama diantara peserta didik dalam kelompok kecil (team work). Peran guru memfasilitasi dan memotivasi agar kelompok bekerja dengan optimal. Menurut hemat saya ini cocok dengan pola hidup orang di Indonesia, lebih termotivasi belajar bersama rekan-rekan yang mengenal, memahami, menerima, membangunnya.
11 – Keterlibatan (engagement) guru dalam kegiatan belajar bersama peserta didik membangun semangat belajar mereka. Belajar sebagai sebuah tindakan aktif dan keterlibatan. Kalau pengajar menugaskan sebuah kasus kepada kelompok kecil, ia juga harus terlibat bersama salah satu kelompok itu.
12 – Prinsip akuntabilitas merupakan kunci sukses belajar dan mengajar. Design pembelajaran seperti silabus harus terbuka kepada peserta didik, dapat distruktur ulang untuk mencapai tujuan. Apa yang disepakati untuk dilakukan mestilah dilaksanakan. Kegagalan maupun keberhasilan belajar dinyatakan secara terus terang namun bijaksana.

Kamis, 22 Desember 2011, 21.43 ϟ 0 Comment (s)